Jalan Tani Tak Tuntas, Kades Nakamura Kesal: Saat Kebakaran, Warga Tak Bisa Akses Kebun
Narasitimur – Kekesalan Kepala Desa Nakamura, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Yakid Arsad, memuncak lantaran jalan tani di desanya hingga kini tak kunjung tuntas.
Jalan tani yang mulai dikerjakan sejak 2024 itu disebut tidak dikerjakan sesuai volume dalam Rencana Anggaran Biaya (RAB). Dari panjang jalan yang direncanakan mencapai sekitar 2,5 kilometer, baru sekitar 1 kilometer yang mendapat pekerjaan sertu.
Kondisi tersebut kini dirasakan dampaknya oleh warga, terutama saat kebakaran melanda kawasan perkebunan Desa Nakamura. Jalan tani yang tidak tersambung membuat akses menuju kebun menjadi sulit, termasuk bagi kendaraan warga maupun mobil pemadam kebakaran.
Yakid menilai kondisi itu sangat disayangkan karena pembangunan jalan tani seharusnya menjadi akses penting bagi masyarakat, termasuk untuk membantu penanganan kebakaran di kawasan perkebunan.
“RAB-nya dua kilometer setengah, yang disertu hanya satu kilometer. Satu kilometer setengah ditinggalkan begitu saja sampai hari ini,” kata Yakid, Sabtu (3/10/2026).
Ia mengaku kecewa dengan pekerjaan tersebut. Menurutnya, anggaran pemerintah yang telah dialokasikan untuk pembangunan jalan tani semestinya menghasilkan infrastruktur yang dapat dimanfaatkan masyarakat secara maksimal.
Kekecewaan itu semakin kuat karena saat ini warga tengah menghadapi kebakaran yang melanda kawasan perkebunan. Api disebut telah berlangsung sekitar satu bulan dan hingga kini belum sepenuhnya padam.
“Kalau ada jalan tani, kita bisa menghalangi api supaya tidak terlalu merugikan masyarakat. Tapi lagi-lagi, jalan tani tidak selesai,” ujarnya.
Yakid mengatakan, dirinya bersama warga telah berupaya memadamkan api secara mandiri. Namun, upaya tersebut terkendala akses menuju lokasi kebakaran yang sulit dijangkau.
Ia bahkan meminta warga menghentikan upaya pemadaman secara mandiri karena khawatir keselamatan masyarakat terancam.
“Saya berada di salah satu kebun warga untuk memadamkan api. Tapi karena kondisi api semakin membesar, saya takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan kepada masyarakat. Lebih baik saya suruh mereka pulang,” katanya.
Menurut Yakid, kebakaran tersebut telah menyebabkan kerugian bagi warga yang selama bertahun-tahun mengelola perkebunan. Sejumlah tanaman produktif seperti pala dan cengkeh disebut ikut terdampak.
Ia berharap persoalan jalan tani tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah, terutama karena infrastruktur tersebut berkaitan langsung dengan akses warga menuju lahan perkebunan dan penanganan bencana kebakaran.
“Ini harta warga Desa Nakamura yang mereka urus dan biayai selama berpuluh-puluh tahun. Tapi ketika ada musibah kebakaran, akses untuk menyelamatkannya justru tidak memadai,” pungkasnya. (*)





