Api TPA Takome Belum Padam Total, Titik Panas Tersisa hingga Kedalaman 10 Meter
Narasitimur – Penanganan kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Buku Deru-Deru, Kelurahan Takome, Kota Ternate, masih berlanjut karena titik api belum sepenuhnya dapat dijangkau dari permukaan.
Berdasarkan laporan progres tanggap darurat Pusdalops PB BPBD Kota Ternate periode 3–11 Oktober 2026, sekitar 70 persen api permukaan berhasil dipadamkan dan dilokalisir. Namun, sekitar 30 persen titik api yang tersisa dilaporkan berada di bawah permukaan tumpukan sampah, dengan kedalaman diperkirakan mencapai 5–10 meter.
Ketua Tim Tanggap Darurat, Rizal Marsaoly, mengatakan upaya pemadaman akan terus difokuskan pada area yang masih mengeluarkan asap tebal dan sejumlah titik yang masih terdapat api.
“Kurang lebih sudah 70 persen area terbakar itu sudah bisa dikendalikan. Masih ada 30 persen lainnya. Sisa waktu tanggap darurat ini kita akan berupaya untuk bisa melakukan pemadaman atau menyelesaikan 30 persen yang masih berasap tebal, kemudian api masih ada di beberapa titik. Itu pun akan kita selesaikan,” kata Rizal saat konferensi pers, Senin (12/10/2026).
Kondisi tersebut menjadi kendala utama karena penyiraman dari permukaan belum cukup efektif menjangkau sumber panas yang terperangkap di dalam tumpukan sampah padat.
Selain itu, proses pembusukan sampah organik menghasilkan gas metana yang mudah terbakar. Keberadaan gas ini menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan dalam penanganan kebakaran di tempat pembuangan akhir. Namun, diperlukan pemeriksaan teknis lebih lanjut untuk memastikan peran gas metana dalam kebakaran di TPA Buku Deru-Deru.
Angin kencang juga dilaporkan memperluas sebaran asap dan menjadi tantangan dalam penanganan di lapangan.
Untuk menjangkau titik api yang tersisa, tim gabungan menerapkan tiga metode secara terpadu, yakni membongkar tumpukan sampah menggunakan ekskavator, menyiram langsung bagian dalam tumpukan untuk menurunkan suhu, serta menutup area yang telah didinginkan dengan tanah urug.
Dalam laporan BPBD, penggunaan air pada hari puncak penanganan mencapai lebih dari 240.000 liter. Sementara itu, kebutuhan tanah urug tercatat sekitar 20–30 rit dump truck per hari.
Pembongkaran dilakukan agar air dapat menjangkau sumber panas yang tersembunyi. Setelah suhu diturunkan, tanah urug digunakan untuk menutup area guna mengurangi pasokan oksigen dan menekan risiko api kembali menyala.
Penanganan juga melibatkan lintas instansi, termasuk BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, Basarnas, TNI, Polri, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pekerjaan Umum, PDAM, dan Balai PBPK Kementerian Pekerjaan Umum.
Status tanggap darurat ditetapkan selama 14 hari, terhitung sejak 3 hingga 16 Oktober 2026, berdasarkan keputusan Wali Kota Ternate yang tercantum dalam laporan BPBD.
Dengan masih adanya titik api di bawah permukaan, proses pemadaman belum cukup hanya ditandai dengan hilangnya api yang terlihat. Pengendalian sumber panas dan pemantauan untuk mencegah munculnya kembali api menjadi bagian penting dalam memastikan kebakaran TPA Buku Deru-Deru dapat dituntaskan. (*)






