Pedagang Musiman Menjamur di Terminal Gamalama, Dishub Ternate Abaikan Instruksi Kepala Daerah
Narasitimur – Para pedagang musiman yang berjualan di area terminal Gamalama, tampaknya tak mengindahkan instruksi Wali Kota Ternate, M Tauhid Soleman. Lihat saja, hingga malam ini, Minggu (15/3/2026), mereka masih tetap melakukan aktivitas berdagang.
Hal itu lantas membuat para pedagang yang sudah menetap lama berjualan di pasar Gamalama, merasa tidak adil.
Berdasarkan amatan narasitimur.id, sekira pukul 19.50 WIT, para pedagang musiman sudah berjejer di area terminal dan berjualan.
Beberapa pedagan pakaian kepada media ini, mengungkapkan bahwa setiap kali mendekati Hari Raya Idulfitri, pedagang musiman yang diketahui dari pasar Kota Baru itu, selalu “menerobos” masuk area terminal untuk menjajahkan barang dagangan mereka seperti sepatu, sandal, pernak-pernik, dan kebutuhan jelang lebaran.
“Selama sebulan ini hasil jualan kami belum terasa karena kondisi masih sangat sepi. Kami berharap tidak ada lagi pedagang yang berjualan di terminal,” ungkap pedagang di pasar Gamalama yang enggan disebut namanya.
Sebelumnya, Wakil Wali Kota Ternate, Nasri Abubakar telah mendatangi langsung lokasi terminal. Peninjauan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kota Ternate, dalam mengembalikan fungsi terminal sebagai pusat aktivitas transportasi.
Kesempatan sore tadi, Nasri mengatakan, bahwa persoalan penataan terminal menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Bahkan sebelumnya juga, sejumlah pedagang yang didampingi aktivis dari Aliansi Pemerhati Demokrasi (Ampera) Maluku Utara sempat melakukan pertemuan dengan dirinya, Sekretaris Daerah Kota Ternate, Ketua DPRD Kota Ternate, serta anggota Komisi III DPRD Kota Ternate, Nurlela Syarif, menjelang bulan suci ramadan.

Kepada media ini, beberapa pedagang lokal berharap dapat kembali memperoleh keuntungan, apalagi para pedagang ini selalu patuh dalam memenuhi kewajiban, seperti membayar retribusi kepada pemerintah daerah.
Para pedagang ini juga mengancam tidak akan membayar retribusi pada tahun berjalan, apabila masih ada pedagang yang berjualan di area terminal. Kehadiran pedagang musiman ini juga, tentu mempengaruhi pendapatan pedagang tetap.
“Rata-rata retribusi yang kami bayarkan kepada pemerintah kota sekitar Rp700 ribu per bulan atau disesuaikan dengan ukuran lapak,” ucapnya.
“Ketika pembeli datang untuk membeli pakaian atau barang lainnya, harga yang ditawarkan pedagang menjadi tidak sama. Karena mereka (pedagang musiman) jualnya lebih murah,” jelasnya.
Para pedagang berharap pemerintah segera mengembalikan fungsi terminal, dan menertibkan pedagang yang berjualan di area tersebut. Jika masih ada pedagang yang ingin berjualan, mereka meminta pemerintah memfungsikan lapak-lapak kosong, yang hingga kini belum ditempati pedagang.

Terpisah, Anggota Komisi III DPRD Ternate, Nurlaela Syarif saat dikonfirmasi mengaku geram dengan sikap dinas terkait yang diduga sengaja melanggar perintah Wali Kota Ternate. Menurutnya, terminal sebagaimana fungsi bukanlah untuk berdagang. Sehingga ia juga meminta Kepala Dinas Perhubungan Kota Ternate untuk menelusuri oknum petugas yang bertanggung jawab di kawasan terminal Gamalama.
“Ini sudah berulangkali pak Wali Kota, Wakil Wali Kota, Sekda bahkan DPRD katakan, bahwa terminal bukan untuk aktivitas berdagang, tetapi untuk transportasi. Tetapi ada oknum yang sengaja bermain di sini. Saya dengan tegas meminta kepala dinas terkait untuk menindak tegas oknum petugas tersebut. Semua orang pasti mencari rejeki, tetapi kita juga harus paham dan taat pada aturan, yang sudah dikeluarkan oleh kepala daerah. Ini berarti dinas tara dengar dan tidak jalankan perintah pak Wali Kota, Wawali, dan Sekda,” pungkasnya.
Sementara Plt Kepala Dinas Perhubungan Ternate, Faisal saat dihubungi via telepon tidak merespons. (*)





