NarasiTimur
Beranda Publik BMKG Ungkap Pola Gempa Susulan di Batang Dua: Melemah, Tanpa Ancaman Tsunami

BMKG Ungkap Pola Gempa Susulan di Batang Dua: Melemah, Tanpa Ancaman Tsunami

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa (Putih) usai rapat tindak lanjut gempa batang dua di kediaman Wakil Gubernur Maluku Utara (Narasitimur)

Narasitimur – BMKG memastikan rangkaian gempa susulan pascagempa magnitudo 7,6 di perairan Maluku masih akan berlangsung, namun tidak berpotensi tsunami.

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Ternate, Gede Eriksana Yasa, mengatakan gempa susulan merupakan fenomena yang wajar terjadi setelah gempa utama.

“Setiap gempa besar pasti diikuti gempa susulan dengan karakteristik yang berbeda-beda,” ujarnya.

Berdasarkan analisis BMKG, durasi gempa susulan diperkirakan berlangsung selama 2 hingga 3 minggu ke depan. Sementara kekuatannya bervariasi, dengan magnitudo berkisar antara 1,7 hingga 5,0.

“Dengan kekuatan maksimal di angka 5,0, gempa susulan ini tidak akan membangkitkan tsunami,” tegasnya.

Data terbaru BMKG hingga 13 April 2026 pukul 06.00 WIB mencatat sebanyak 1.594 gempa susulan, dengan 31 kejadian dirasakan oleh masyarakat. Meski jumlahnya cukup tinggi, tren frekuensi gempa menunjukkan penurunan.

“Dari sebelumnya 49 kejadian, menurun menjadi sekitar 20 gempa hingga malam hari,” jelas Gede.

BMKG juga memetakan sebaran gempa susulan yang terkonsentrasi di sekitar pusat gempa utama di wilayah laut Maluku, dengan kedalaman bervariasi dari dangkal hingga menengah.

Seiring dengan kondisi tersebut, BMKG bersama pemerintah memberikan sejumlah rekomendasi kepada masyarakat, khususnya di Kecamatan Batang Dua, Ternate.

Warga diminta tetap waspada, namun tidak perlu bertahan di area pegunungan karena ancaman tsunami telah dinyatakan berakhir.

Selain itu, masyarakat yang rumahnya masih dalam kondisi kokoh dan tidak mengalami keretakan serius diperbolehkan kembali menempati rumah masing-masing. Sementara bagi rumah yang mengalami kerusakan, disarankan tetap berada di halaman atau pos pengungsian.

Untuk kebutuhan sehari-hari, warga juga dapat memanfaatkan fasilitas umum seperti MCK di rumah masing-masing, mengingat lokasi pengungsian yang relatif dekat dengan permukiman.

BMKG menegaskan, masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta terus mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan BMKG. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan