Diduga Curi 500 Liter BBM Pertamina, Empat Pekerja di Ternate Diproses Polisi
Narasitimur – Dugaan pencurian bahan bakar minyak (BBM) yang melibatkan empat pekerja di lingkungan Pertamina, Ternate, Maluku Utara, masih menyisakan persoalan soal jumlah BBM yang hilang dan total kerugian perusahaan. Polisi memperkirakan volume BBM yang diduga diambil mencapai 400 hingga 500 liter berdasarkan pengakuan para pekerja, tetapi angka pastinya belum dapat dipastikan.
Kapolsek Ternate Pulau, Iptu Lukman Umasugi, mengatakan penyidik masih melengkapi berkas perkara setelah jaksa mengembalikannya dengan petunjuk P-19.
“Berkas kami sudah tahap satu, kemudian ada P-19. Kami tanyakan kembali terkait jumlah pastinya, tetapi dari Pertamina menyampaikan mereka tidak bisa memprediksi jumlah pasti. Insyaallah, berkas akan kami lengkapi dan kirim kembali,” kata Lukman, Rabu (14/10/2026).
Menurut Lukman, BBM yang diduga diambil bukan berasal langsung dari tangki penyimpanan, melainkan dari sisa BBM di saluran atau keran pompa. BBM tersebut kemudian diduga dijual kembali ke kios-kios.
“Jadi, minyak itu mereka ambil dan jual di kios-kios,” ujarnya.
Kasus ini terungkap pada Juli 2026 setelah pihak Pertamina mencurigai gerak-gerik salah seorang pekerja. Kecurigaan tersebut ditindaklanjuti dengan pemeriksaan rekaman kamera pengawas atau CCTV.
Dari rekaman itu, pihak perusahaan mengenali seorang pekerja melalui ciri-ciri yang terlihat, termasuk sepatu yang digunakan. Sepatu tersebut disebut sebagai perlengkapan khusus bagi karyawan yang bekerja di area Pertamina.
“Menurut pelapor, kejadian itu sekitar bulan Juli. Awalnya mereka curiga dengan gerak-gerik seseorang. Besoknya, mereka mengecek CCTV dan mengenali salah satu pelaku dari ciri-cirinya, karena menggunakan sepatu karyawan untuk area Pertamina,” jelas Lukman.
Setelah pekerja tersebut teridentifikasi, pihak Pertamina memanggil dan meminta keterangannya. Pekerja itu disebut mengakui perbuatannya serta menyebut tiga orang lain yang diduga terlibat.
Polisi kemudian memanggil dan memeriksa keempat pekerja tersebut. Lukman mengatakan mereka bersikap kooperatif dan mengakui keterlibatan dalam perkara yang sedang ditangani.
Keempat pekerja itu masing-masing berinisial R alias Rafael, A alias Arisandi, RS alias Riskam Suhaidir, dan M alias Mardani. Dua di antaranya merupakan pekerja di bawah naungan BUMN, sedangkan dua lainnya bekerja melalui perusahaan subkontraktor, yakni Arisandi dan Riskam Suhaidir.
Meski demikian, penyidik masih menghadapi kendala untuk memastikan volume BBM yang diduga dicuri dan nilai kerugian yang dialami Pertamina. Kepastian kedua hal tersebut menjadi bagian penting dalam penyelesaian berkas perkara.
Lukman menyebut laporan dugaan pencurian itu disampaikan langsung oleh perwakilan Pertamina. Namun, hingga kini perusahaan belum dapat memastikan jumlah BBM yang hilang maupun total kerugian akibat kejadian tersebut.
Penyidik juga masih harus memenuhi petunjuk jaksa setelah berkas perkara dikembalikan dengan status P-19. Setelah dilengkapi, berkas tersebut akan dikirim kembali agar proses hukum dapat berlanjut.
Dengan demikian, meski dugaan pengambilan BBM telah mengarah pada empat pekerja, jumlah pasti BBM yang hilang dan kerugian perusahaan masih belum terungkap. (*)






