Ternate Menjemput Pulang Mendiang Haji Bur
Penulis: Angga Kadir
Langit Ternate siang itu tampak teduh. Namun suasana di Bandara Sultan Babullah, Selasa (12/5/2026), dipenuhi duka yang sulit disembunyikan. Satu per satu keluarga, pejabat pemerintah, hingga warga berdiri menunggu kedatangan sosok yang pernah memimpin Kota Ternate selama dua periode. Bukan lagi untuk menyambutnya bekerja, melainkan untuk mengantarnya pulang untuk terakhir kali.
Pesawat Lion Air JT 896 yang membawa jenazah almarhum H. Burhan Abdurahman mendarat sekitar pukul 10.30 WIT. Setelah lima tahun dimakamkan di Makassar, jenazah mantan Wali Kota Ternate itu akhirnya dipulangkan ke tanah yang selama hidupnya ia bangun dan cintai.
Di area embarkasi bandara, suasana mendadak hening saat peti jenazah dipindahkan ke keranda. Tatapan mata keluarga terlihat berat. Beberapa pelayat tak mampu menahan air mata ketika iring-iringan mulai bergerak meninggalkan bandara menuju rumah duka di Kelurahan Moya.
Di sepanjang jalan, warga berdiri memandangi rombongan yang melintas perlahan dengan pengawalan ketat aparat kepolisian. Lampu hazard kendaraan menyala, seakan menjadi tanda bahwa Ternate sedang menjemput pulang salah satu putra terbaiknya.
Rute yang dilalui rombongan terasa seperti perjalanan kenangan. Dari Akehuda, Salero, Kalumpang hingga Moya, jalan-jalan itu pernah menjadi saksi langkah Burhan Abdurahman saat memimpin kota ini.
Setibanya di rumah duka, doa-doa mulai dipanjatkan. Tangis keluarga pecah ketika jenazah tiba di halaman rumah. Imam Masjid Kesultanan Tidore, H. Samad Faruk, memimpin doa bersama di tengah suasana yang penuh haru.
Namun puncak emosi terjadi saat jenazah dibawa ke Kantor Wali Kota Ternate untuk prosesi penghormatan terakhir dari pemerintah daerah.
Di halaman kantor wali kota, peti jenazah disambut dalam upacara pelepasan. Sultan Tidore, Husain Alting Sjah, mewakili keluarga menyampaikan sambutan dengan suara berat. Sementara pelepasan resmi dilakukan oleh Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman.
Tauhid tampak beberapa kali menahan emosinya saat berbicara tentang sosok pendahulunya itu.
“Saya tentu merasa bahagia karena rencana untuk almarhum pulang dikuburkan di Ternate akhirnya bisa ditunaikan. Ini juga keinginan dari ibunda Haji Burhan Abdurahman,” ucap Tauhid.
Baginya, Burhan bukan sekadar mantan wali kota. Ia adalah figur yang meninggalkan jejak besar dalam perjalanan Kota Ternate.
“Kita tahu persis bahwa almarhum ini adalah salah satu putra terbaik di Kota Ternate. Banyak hal yang sudah beliau tinggalkan untuk Ternate. Almarhum sudah melakukan banyak manfaat untuk Ternate dan kita saksikan sampai saat ini bahkan dilanjutkan oleh saya,” lanjutnya.
Kalimat itu membuat suasana semakin sunyi. Beberapa pelayat menundukkan kepala. Sebagian lainnya mengusap air mata.
Bagi banyak warga, Burhan Abdurahman bukan hanya seorang pejabat. Ia adalah pemimpin yang dikenang lewat kedekatannya dengan masyarakat. Sosok yang pernah berjalan di lorong-lorong kampung, mendengar langsung keluhan warga, hingga membangun wajah baru Kota Ternate di masanya.
Hari itu, Ternate tidak hanya memakamkan seorang mantan wali kota.
Ternate sedang mengantar pulang kenangan. (*)






