NarasiTimur
Beranda Opini Ternate 775 Tahun: Membangun Ikon atau Sekadar Lelucon

Ternate 775 Tahun: Membangun Ikon atau Sekadar Lelucon

Achsan HZ, ST (Alumni Arsitek ITY/Univ. Teknologi Yogyakarta)

Penulis: Achsan HZ

Di usia 775 tahun, Kota Ternate seharusnya telah matang dalam memaknai pembangunan. Kota setua ini tidak cukup dirayakan dengan proyek fisik dan seremoni tahunan, tetapi dengan kebijakan ruang yang cerdas, berakar pada sejarah, dan berpihak pada warganya.

Sayangnya, pembangunan Ternate belakangan justru terasa seperti parade ikon: ramai, mencolok, namun sering kehilangan makna. Di sinilah ironi itu muncul antara membangun ikon atau justru menghadirkan lelucon arsitektural.

Sebagai warga dan sarjana arsitektur yang baru kembali Ke Ternate, saya terkejut melihat di depan mata. Kota ini adalah kota memori dibentuk oleh sejarah Kesultanan, budaya maritim, dan lanskap kepulauan yang unik. Setiap intervensi ruang semestinya berdialog dengan konteks tersebut. Kelihatannya proyek publik hadir tanpa narasi yang jelas, seolah terlepas dari cerita kota yang telah hidup berabad-abad.

Ikon yang Kehilangan Makna

Berbagai proyek seperti landmark, dan landmark lainnya mulai dari struktur yang dikenal publik sebagai Tulang Ikan, penataan Pantai Falajawa dan Pantai Toboko, hingga kawasan Taman Nukila dan dermaga Kesultanan menunjukkan kecenderungan serupa: mengejar bentuk ikonik, tetapi abai pada makna.

Ikon kota bukan sekadar bentuk unik atau monumental. Ia adalah simpul memori dan identitas. Ketika sebuah landmark tidak dipahami warganya, tidak menyatu dengan sejarah tempat, dan tidak mendukung aktivitas sosial, maka ia berubah menjadi artefak asing. Ia berdiri, tetapi tidak hidup.

Struktur “Tulang Ikan”, misalnya, lebih sering menjadi bahan candaan publik ketimbang simbol kebudayaan maritim. Bentuk boleh abstrak, tetapi makna tidak boleh kabur. Arsitektur publik yang pasti tidak dipahami warganya sendiri adalah sinyal kegagalan perencanaan.

Ruang Publik yang Tidak Ramah Kehidupan

Pantai Falajawa dan Pantai Toboko memperlihatkan persoalan lain: ruang publik yang lebih diperlakukan sebagai etalase visual daripada ruang sosial. Penataan fisik memang tampak rapi dan fotogenik, tetapi belum tentu ramah terhadap aktivitas sehari-hari nelayan, pedagang kecil, anak-anak, dan warga yang sekadar ingin duduk tanpa tekanan estetika.

Ruang publik yang baik bukan hanya indah dipandang, tetapi fleksibel, inklusif, dan hidup. Ketika desain terlalu kaku dan steril, ruang kehilangan spontanitas sosialnya. Ia ramai di media sosial, tetapi sepi dalam keseharian.

Sejarah yang Dijadikan Latar

Kawasan Taman Nukila dan Dermaga Kesultanan seharusnya diperlakukan dengan kepekaan tinggi. Ini bukan sekadar ruang kota, tetapi lanskap sejarah dan simbol identitas Ternate. Pendekatan pembangunan yang terlalu generik berisiko mereduksi sejarah menjadi sekadar latar visual.

Banyak kota tua di dunia bertahan karena kehati-hatiannya dalam membangun mengutamakan kesinambungan, bukan penggantian. Di Ternate, kesan yang muncul justru sebaliknya: sejarah sering ditimpa desain baru tanpa pemahaman mendalam terhadap konteks yang dilapisinya.

Seremoni 775 Tahun: Substansi atau Sekadar Panggung

Perayaan ulang tahun ke-775 Kota Ternate yang dilaksanakan di Kedaton Kesultanan Ternate, sejatinya memiliki makna simbolik yang sangat kuat. Kedaton adalah jantung sejarah dan peradaban Ternate. Menjadikannya lokasi perayaan seharusnya menjadi pernyataan sikap, bahwa pembangunan kota berpijak pada sejarah.

Namun publik berhak bertanya: apakah perayaan ini lebih dari sekadar seremoni? Apakah ia melahirkan refleksi dan komitmen nyata terhadap arah pembangunan kota? Ketika perayaan hanya berhenti pada panggung, dekorasi, dan pidato, tanpa evaluasi kebijakan ruang dan arsitektur publik, maka Kedaton berisiko direduksi menjadi latar simbolik belaka. Sejarah diagungkan dalam seremoni, tetapi diabaikan dalam praktik.

Mari Belajar dari Usia

Ulang tahun ke-775 seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif. Bukan hanya merayakan usia kota, tetapi menjadi dewasa. Ternate tidak kekurangan simbol dan sejarah. Yang sering hilang adalah keberanian untuk membangun dengan makna, bukan sekadar citra.

Jika ikon terus dibangun tanpa narasi, ruang publik tanpa kehidupan, dan sejarah hanya dijadikan dekorasi acara, maka ulang tahun kota akan kehilangan substansinya. Lelucon terbesar sebuah kota bukanlah bangunannya yang aneh, melainkan kegagalannya belajar dari sejarahnya sendiri. Saya berharap opini/kritik ini dipahami sebagai ajakan untuk meneguhkan tanggung jawab etis kita dalam setiap langkah pembangunan.

Arsitektur publik mencerminkan peradaban, dan harus bertahan lebih lama daripada masa jabatan para pengambil kebijakan. “Selamat Hari Jadi Ternate ke 775”. (*)

Join channel telegram websitekami.com agar tidak ketinggalan berita loker terbaru lainnya

Join now
Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan