Cegah Hoaks hingga Perundungan, Tauhid Soleman Tekankan Budaya Tabayun
Narasitimur – Wali Kota Ternate, M. Tauhid Soleman, menekankan pentingnya budaya tabayun atau memeriksa kebenaran informasi dalam menghadapi tantangan era digital, termasuk penyebaran hoaks dan perundungan di kalangan anak dan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan Tauhid saat menjadi pemateri dalam Seminar Peringatan Hari Santri Kota Ternate, Maluku Utara, yang berlangsung di Aula Kantor Wali Kota Ternate, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Tauhid, perkembangan teknologi digital menuntut generasi muda, termasuk para santri, untuk mampu beradaptasi tanpa mengabaikan kedalaman ilmu pengetahuan dan akhlak.
Ia menilai, berbagai tantangan di ruang digital perlu mendapat perhatian bersama, mulai dari distraksi penggunaan teknologi, penyebaran informasi palsu atau hoaks, perundungan, hingga kesenjangan komunikasi antargenerasi.
Karena itu, budaya tabayun perlu diperkuat agar anak-anak terbiasa memeriksa kebenaran informasi sebelum mempercayai maupun menyebarkannya kepada orang lain.
Selain literasi digital, Tauhid juga menekankan pentingnya menyediakan jalur perlindungan anak yang aman agar mereka mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan, termasuk perundungan.
Menurutnya, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan ilmu pengetahuan, tetapi juga harus membentuk karakter, akhlak, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Tauhid menjelaskan, pembentukan karakter anak membutuhkan keterlibatan tiga lingkungan utama yang disebut sebagai Triologi Pendidikan, yakni rumah, sekolah atau pesantren, serta masjid dan masyarakat.
Rumah menjadi tempat pertama untuk menanamkan kasih sayang, adab, disiplin, dan keteladanan. Sementara sekolah atau pesantren berperan mengembangkan ilmu pengetahuan, nalar kritis, serta kemandirian. Adapun masjid dan masyarakat menjadi ruang untuk memperkuat nilai spiritual, persaudaraan, dan kepedulian sosial.
Ia menegaskan, ketiga lingkungan tersebut perlu berjalan beriringan agar anak memperoleh pesan pendidikan yang konsisten, baik di rumah, lembaga pendidikan, maupun lingkungan masyarakat.
Dalam konteks Kota Ternate dan Maluku Utara, Tauhid juga mendorong agar pendidikan terhubung dengan kearifan lokal. Nilai adat se atorang, penghormatan kepada orang tua dan guru, musyawarah, gotong royong, hingga sejarah rempah dinilai dapat menjadi bagian dari pembelajaran karakter generasi muda.
Ia mengingatkan, kearifan lokal tidak seharusnya berhenti sebagai simbol atau seremoni, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku nyata di tengah masyarakat.
Untuk mendorong penerapan gagasan tersebut, Tauhid memaparkan rencana aksi 90 hari yang mencakup pemetaan kebutuhan anak dan potensi lokal, pelaksanaan program rutin berbasis kearifan lokal, evaluasi berkala, hingga upaya menjaga keberlanjutan program di tingkat kelurahan dan lingkungan pendidikan.
Melalui pendekatan tersebut, pendidikan diharapkan tidak hanya menghasilkan generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak, kemampuan menyaring informasi, serta kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya. (*)






