Tak Sekadar Memarut Kelapa, Kukuran Tongole Jadi Media Belajar Etnosains
Di halaman SD Negeri 4 Kota Ternate, suara tawa anak-anak bersahutan saat mereka bergantian mencoba memarut kelapa menggunakan kukuran, alat tradisional berbahan kayu yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kelurahan Tongole. Bagi sebagian siswa, itu adalah pengalaman pertama mereka mengenal alat yang dulu hampir selalu ada di setiap dapur rumah.
Kegiatan bertajuk “Merawat Warisan Kukuran Desa Tongole” yang digelar Rabu (5/8/2026) itu bukan sekadar mengenalkan alat tradisional. Melalui pendekatan etnosains, 30 siswa dari SD Negeri 4, SD Negeri 3, SD Negeri 8, dan SD Negeri 10 Kota Ternate diajak memahami bahwa pengetahuan leluhur juga menyimpan konsep-konsep sains yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Lokakarya ini merupakan bagian dari Program Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara yang berfokus pada dokumentasi pengetahuan lokal sekaligus pengembangan bahan ajar berbasis budaya.
Di hadapan para siswa, Safrin Sabtu, salah satu pengrajin kukuran dari Desa Tongole, memperlihatkan bagian-bagian kukuran, cara duduk yang benar saat memarut, hingga menceritakan proses pembuatannya mulai dari memilih kayu hingga memasang mata parut. Baginya, melihat anak-anak mengenal kembali alat yang telah lama ia buat menjadi kebahagiaan tersendiri.
“Saya bahagia ada yang mendokumentasikan kukuran dan melestarikannya ke generasi penerus,” ujar Safrin.
Usai mendengarkan penjelasan, para siswa langsung mempraktikkan cara memarut kelapa. Mereka mengamati hasil parutan, mencium aroma kelapa segar, lalu mengisi lembar kerja yang menghubungkan pengalaman tersebut dengan konsep ilmiah seperti gesekan, tekanan, dan bentuk permukaan alat. Seluruh peserta mengenakan ikat kepala bertuliskan “Sahabat Kukuran Desa Tongole”, simbol bahwa mereka ikut menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya.
Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Maluku Utara yang diwakili Dwi Sri menjelaskan, pendekatan etnosains mengajarkan bahwa tradisi yang diwariskan leluhur tidak lahir begitu saja, tetapi memiliki dasar pengetahuan yang rasional dan dapat dipelajari secara ilmiah.
Sementara itu, Ketua Tim Kegiatan, Suryani Taib, dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Khairun, mengatakan pendokumentasian pengetahuan para pengrajin menjadi langkah penting agar keahlian tersebut tidak hilang bersama berkurangnya jumlah pembuat kukuran.
“Harapan kami warisan ini terus dijaga, dan pengetahuan dasar dari pengrajin tidak boleh hilang,” katanya.
Kepala SD Negeri 4 Kota Ternate, Jeny N. Ballamu, menyambut positif kegiatan tersebut. Ia berharap bahan ajar yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan di sekolah sehingga siswa tidak hanya mengenal budaya daerahnya, tetapi juga belajar sains melalui pengalaman langsung.
Sebagai bagian dari program, tim juga memproduksi video dokumenter tentang proses pembuatan kukuran di Desa Tongole. Dokumentasi itu akan disusun menjadi bahan ajar etnosains sekaligus arsip pengetahuan lokal yang dapat dimanfaatkan sekolah-sekolah di Kota Ternate.
Di tengah semakin dominannya mesin parut modern, kukuran perlahan mulai ditinggalkan. Namun, lewat tangan-tangan kecil para siswa hari itu, harapan agar warisan Desa Tongole tetap hidup kembali menemukan jalannya. (*)





