Tim Putra Waka Juara Gabalil Hai Sua, Tempuh 150 Km Keliling Sula
Narasitimur – Tim Putra Waka asal Desa Fatkauyon, Kecamatan Sulabesi Timur, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, keluar sebagai juara pertama dalam event Gabalil Hai Sua atau keliling tanah Sula.
Para peserta menempuh perjalanan sejauh kurang lebih 150 kilometer dengan berjalan kaki selama lima hari, mulai 2 hingga 6 Mei 2026. Mereka harus melewati medan berat serta menghadapi cuaca ekstrem, baik hujan maupun panas, hingga akhirnya mencapai garis finish.
Tim yang terdiri dari 10 orang ini dikoordinatori oleh Rustam Sanaba. Mereka dinyatakan finis lengkap pada pukul 09.30 WIT di Benteng De Verwachting, Kota Sanana.
Suasana haru dan bahagia menyambut kedatangan tim saat memasuki garis akhir. Panitia dan masyarakat turut memberikan apresiasi atas perjuangan para peserta.
Rustam Sanaba mengaku bangga atas capaian timnya. Menurutnya, hasil tersebut merupakan buah dari kerja keras dan semangat para peserta selama perjalanan.
“Saya sangat senang dan bangga, karena perjuangan dan semangat peserta bisa membuahkan hasil positif,” ujarnya, Rabu (6/5/2026).
Ia menambahkan, keberhasilan tim tidak lepas dari dukungan masyarakat, khususnya di Desa Fatkauyon dan sekitarnya.
Selama perjalanan, tim sempat menghadapi berbagai kendala, mulai dari kondisi medan hingga cuaca. Bahkan, posisi mereka sempat berada di urutan delapan pada pos pertama dan turun ke urutan sebelas di pos kedua.
Namun, tim berhasil bangkit dengan menempati posisi pertama di pos ketiga, kemudian posisi kedua di pos keempat, hingga akhirnya finis sebagai juara pertama.
Diketahui, event Gabalil Hai Sua dilepas oleh Wakil Bupati Kepulauan Sula, M Saleh Marasabessi, di Benteng De Verwachting pada 2 Mei 2026. Kegiatan ini digelar dalam rangka memeriahkan hari jadi ke-23 Kota Sanana.
Event tersebut diikuti sekitar 310 peserta yang terbagi dalam 30 kelompok. Mereka menempuh perjalanan melintasi 41 desa di enam kecamatan selama lima hari.
Gabalil Hai Sua merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Kepulauan Sula yang sarat nilai adat dan spiritual, sekaligus menjadi simbol kesiapan mental dan fisik, terutama bagi masyarakat yang akan merantau. (*)





