Pengakuan Esau, 26 Hari Hanyut di Pasifik: “Saya Minum Air Kencing Sendiri”
Penulis: Angga Kadir
Ada titik dalam hidup ketika manusia tidak lagi memikirkan bagaimana hidup dengan nyaman. Ia hanya memikirkan bagaimana caranya tetap hidup.
Esau Sidemo sampai pada titik itu.
Selama 26 hari, nelayan asal Pulau Batang Dua, Kota Ternate, terombang-ambing seorang diri di atas perahu kecil di tengah Samudra Pasifik.
Tidak ada rumah.
Tidak ada daratan.
Tidak ada keluarga.
Hanya laut yang membentang sejauh mata memandang.
Ketika ditemui di kediamannya di Kelurahan Tubo, Kecamatan Ternate Utara, Minggu (23/8/2026), Esau kembali mengingat hari-hari ketika hidupnya hanya bergantung pada apa yang bisa ia temukan di tengah laut.
Salah satu pengakuannya terdengar sederhana, tetapi menggambarkan betapa keras perjuangannya.
“Saya minum air kencing sendiri.”
Ia mengatakannya tanpa banyak dramatisasi.
Sebab bagi Esau, saat itu tidak ada pilihan.
Air semakin habis. Tubuh semakin lemah. Matahari terus menyengat dari atas kepala.
Ia hanya ingin bertahan satu hari lagi.
Makan Apa Saja yang Datang
Di tengah laut, makanan bukan sesuatu yang bisa dicari.
Makanan adalah sesuatu yang datang.
Kelapa yang hanyut menjadi santapan, meski sebagian sudah busuk.
Ikan yang melompat masuk ke perahunya menjadi rezeki.
Kemudian, pada satu hari ketika tubuhnya sudah semakin lemah, seekor burung putih terbang di sekitar perahunya.
Esau memperhatikannya.
Burung itu mendekat.
Dengan sisa tenaga yang dimiliki, ia menangkapnya.
Burung itu kemudian menjadi makanan.
Mungkin bagi orang yang hidup di darat, kisah itu terdengar tidak masuk akal.
Tetapi di tengah Pasifik, bagi Esau, seekor burung bisa berarti beberapa hari kehidupan.
Ia percaya, makanan-makanan itu datang bukan tanpa alasan.
“Tuhan yang kirim makanan, sehingga saya merasa kenyang,” katanya.
Ketika Laut Menjadi Rumah
Hari berganti.
Malam datang tanpa lampu.
Pagi datang tanpa daratan.
Badai dan cuaca buruk datang silih berganti.
Panas matahari membakar tubuhnya.
Kaki Esau mengalami luka akibat berhari-hari terpapar panas dan kondisi laut yang ekstrem.
Namun ia tetap berada di perahu kecil itu.
Sendirian.
Ia tidak tahu kapan semua ini akan berakhir.
Bahkan Esau mengaku sudah lupa berapa lama dirinya berada di laut.
Waktu tidak lagi dihitung dengan kalender.
Hanya dengan rasa lapar, haus, dan datangnya malam.
Di titik itu, ia mulai pasrah.
“Saya sudah pasrah kalau tidak ada pertolongan.”
Kalimat itu mungkin menjadi bagian paling sunyi dari perjalanan Esau.
Karena ketika seseorang sudah berada di tengah laut selama berhari-hari, tidak tahu arah dan tidak tahu kapan akan ditemukan, harapan bisa menjadi sesuatu yang sangat mahal.
Namun Esau tetap berdoa.
Pertolongan yang Datang dari Kejauhan
Hari ke-26.
Esau sudah melewati hampir satu bulan dalam keadaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Lalu dari kejauhan, muncul sebuah kapal.
Kapal kargo LNG Endeavour berbendera Prancis sedang melintas di Samudra Pasifik.
Seorang awak kapal melihat perahu kecil Esau.
Bukan keluarga.
Bukan orang sekampung.
Bukan orang Indonesia.
Orang asing yang bahkan tidak pernah mengenalnya.
Tetapi orang asing itulah yang melihatnya.
Kapal kemudian mengubah haluan dan mendekati Esau.
Setelah 26 hari, akhirnya ada yang datang.
Esau ditemukan dalam keadaan lemas. Tubuhnya telah mengalami luka, terutama pada bagian kaki akibat terpapar panas dan cuaca ekstrem selama berhari-hari.
Mungkin pada saat itu Esau tidak lagi memikirkan bagaimana dirinya bisa sampai sejauh itu.
Ia hanya tahu satu hal:
ia diselamatkan.
“Mungkin ini pertolongan Tuhan,” ucap Esau.
Pulang
Ada orang yang pergi melaut dan pulang membawa ikan.
Ada pula yang pulang membawa cerita.
Esau pulang membawa sesuatu yang jauh lebih besar.
Cerita tentang 26 hari ketika hidupnya berada di antara harapan dan kepasrahan.
Tentang air yang habis.
Tentang kelapa yang busuk.
Tentang ikan yang datang tanpa dicari.
Tentang seekor burung putih yang menjadi makanan.
Tentang air kencing yang terpaksa diminum ketika rasa haus mengalahkan rasa jijik.
Dan tentang doa yang tetap dipanjatkan ketika ia sudah tidak tahu lagi apakah pertolongan akan datang.
Selama 26 hari, Esau mungkin kehilangan arah.
Tetapi ia tidak kehilangan keinginan untuk hidup.
Di tengah luasnya Samudra Pasifik, ketika dirinya hampir tidak terlihat oleh siapa pun, sebuah kapal asing akhirnya melihatnya.
Barangkali bagi awak kapal itu, Esau hanya sebuah perahu kecil di tengah lautan.
Tetapi bagi Esau, kapal itu adalah alasan untuk percaya bahwa harapan belum benar-benar selesai.
Setelah 26 hari hanyut, ia akhirnya menemukan jalan pulang.






