TEMU 2026 Ingin Bangun Ekosistem Literasi, Tak Sekadar Festival Tiga Hari
Narasitimur – Festival Ternate Menulis (TEMU) 2026 tidak hanya dirancang sebagai perhelatan literasi selama tiga hari. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada 10-12 Desember 2026 di kawasan Benteng Oranje, Kota Ternate, Maluku Utara, ini juga diarahkan untuk membangun ekosistem literasi yang berkelanjutan di daerah.
Project Manager TEMU 2026, Wahyuddin D. Gafur, mengatakan festival tersebut menjadi ruang pertemuan bagi penulis, pembaca, pegiat literasi, akademisi, seniman, jurnalis, hingga masyarakat untuk berbagi gagasan dan pengetahuan.
Menurutnya, TEMU diharapkan tidak berhenti pada rangkaian kegiatan festival, tetapi mampu melahirkan kolaborasi jangka panjang antara komunitas, lembaga pendidikan, pemerintah, media, penerbit, dan pelaku industri kreatif.
“Ekosistem ini akan mendorong upaya serta keinginan untuk mendokumentasikan cerita, sejarah, ekologi, budaya, tradisi, serta kehidupan Maluku Utara melalui karya tulis,” ungkap Wahyuddin, yang dikenal dengan nama pena WDGafoer.
Mengusung tema “Akar dan Jejak: Rediscovering North Moluccas”, TEMU 2026 juga diharapkan menjadi titik temu lahirnya penulis-penulis baru yang mampu mengangkat isu lokal melalui karya kreatif, kritis, dan bernilai.
Sejumlah kegiatan disiapkan, mulai dari diskusi buku, panggung puisi, musik, monolog, tarian kontemporer, workshop menulis, hingga malam anugerah.
Selain itu, panitia akan menggelar sayembara menulis dengan tiga kategori, yakni puisi, cerpen, dan esai. Pada penyelenggaraan perdana ini, peserta dibatasi khusus dari Maluku Utara.
Setiap pemenang pertama yang berasal dari luar Ternate akan diundang menghadiri malam anugerah di Kota Ternate.
Festival ini diharapkan menjadi langkah awal membangun ruang literasi yang tidak hanya hadir melalui agenda tahunan, tetapi juga mendorong lahirnya karya, penulis, dan dokumentasi pengetahuan lokal Maluku Utara secara berkelanjutan. (*)






