Merespons Konflik, AJI Ternate Minta Media Kedepankan Jurnalisme Damai
Narasitimur – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate mengeluarkan pernyataan sikap resmi merespons konflik yang terjadi di Kabupaten Halmahera Utara dan Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.
Dalam pernyataan tersebut, AJI Ternate menyerukan kepada seluruh insan pers untuk mengedepankan prinsip jurnalisme damai guna menjaga stabilitas sosial dan keselamatan masyarakat.
Ketua AJI Ternate, Yunita Kaunar, menegaskan bahwa dalam situasi sensitif, jurnalis memiliki tanggung jawab besar untuk tidak memperkeruh keadaan. Media, kata dia, harus berperan sebagai pendingin suasana, bukan pemicu ketegangan.
“Jurnalis harus bekerja profesional dengan berpedoman pada Kode Etik Jurnalistik. Setiap informasi yang disajikan wajib akurat, berimbang, dan melalui proses verifikasi yang ketat,” ujar Yunita dalam keterangan tertulis, Jumat (3/4/2026).
Pernyataan sikap tersebut juga ditandatangani oleh Sekretaris AJI Ternate, Suryani S. Tawari, yang memuat enam poin utama.
Pertama, jurnalis diminta memprioritaskan jurnalisme damai dengan menghindari narasi provokatif yang belum terverifikasi. Kedua, media harus tetap patuh pada Kode Etik Jurnalistik dan tidak menyajikan informasi yang menghakimi atau menyesatkan.
Ketiga, media diimbau menghindari penggunaan diksi bernuansa kebencian serta tidak menonjolkan identitas kelompok yang berpotensi memperparah konflik. Keempat, pemberitaan harus berorientasi pada nilai kemanusiaan dan mendorong upaya penyelesaian konflik.
Kelima, AJI menegaskan pentingnya independensi pers dengan menolak segala bentuk tekanan atau intervensi terhadap kerja jurnalistik. Keenam, masyarakat diajak untuk bijak dalam mengonsumsi informasi serta tidak mudah terprovokasi oleh kabar hoaks.
AJI Ternate juga menyampaikan keprihatinan atas potensi gangguan stabilitas di kedua wilayah tersebut. Organisasi ini menilai, ruang publik yang sehat hanya dapat terwujud jika pers hadir sebagai bagian dari solusi.
“Media harus digunakan untuk membangun pemahaman, bukan memperdalam perpecahan. Kita harus mengedepankan kepentingan publik dan nilai kemanusiaan di atas segalanya,” ujar Suryani.
Pernyataan sikap ini diharapkan menjadi panduan bagi jurnalis di Maluku Utara agar tetap independen, profesional, serta turut menjaga stabilitas dan keselamatan masyarakat di tengah situasi konflik. (*)






