Ketika Hujan Turun, Sampah Mengapung: Wajah Krisis yang Tak Kunjung Selesai di Ternate
Oleh: Ridha Angga Kadir
Hujan baru turun beberapa jam. Namun di sejumlah sudut Kota Ternate, pemandangan yang muncul selalu sama. Plastik bekas, botol minuman, sisa makanan, dan berbagai jenis sampah rumah tangga terlihat mengambang di drainase, menyumbat aliran air, lalu meluber ke jalan raya.
Bagi sebagian warga, kondisi itu mungkin dianggap biasa. Tetapi bagi Kota Ternate, fenomena tersebut merupakan tanda bahwa persoalan sampah telah berkembang menjadi krisis yang belum menemukan jalan keluar.
Setiap musim hujan, sampah seolah kembali memperlihatkan dirinya kepada publik. Sampah yang sebelumnya tersembunyi di saluran air, got, dan selokan, mendadak muncul ke permukaan ketika hujan deras mengguyur kota.
Di Kelurahan Soa misalnya, hujan deras pernah menyebabkan sampah meluap hingga ke badan jalan. Berbagai jenis limbah rumah tangga terbawa arus dan mengganggu aktivitas warga. Kondisi itu diduga terjadi akibat saluran drainase yang tersumbat sampah. Bahkan warga setempat mengaku minimnya fasilitas tempat pembuangan sementara membuat sebagian masyarakat membuang sampah ke saluran air.
Persoalan tersebut sebenarnya hanya gejala dari masalah yang lebih besar.
Kota yang Memproduksi 100 Ton Sampah Setiap Hari
Setiap hari, Kota Ternate menghasilkan sampah dalam jumlah yang sangat besar.

Data Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate menunjukkan bahwa sampah yang masuk ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Takome mencapai sekitar 100 hingga 120 ton per hari. Dari jumlah itu, sampah organik mendominasi dengan komposisi sekitar 40 hingga 43 persen.
Angka tersebut menunjukkan beban yang harus ditanggung sistem pengelolaan sampah kota setiap hari.
Jika dikalkulasikan, dalam satu bulan Ternate menghasilkan lebih dari 3.000 ton sampah. Dalam setahun jumlahnya bisa mencapai lebih dari 36 ribu ton.
Masalahnya, sebagian besar sampah tersebut masih berakhir di TPA.
Sistem pengelolaan yang berjalan selama ini masih didominasi pola lama: kumpul, angkut, lalu buang. Sebuah penelitian mengenai TPA Buku Deru-Deru Takome menyebutkan bahwa pengelolaan sampah di Ternate selama bertahun-tahun masih bertumpu pada sistem konvensional sehingga tidak memberikan perubahan berarti terhadap pengurangan volume sampah yang masuk ke TPA.
Dengan kata lain, sampah hanya dipindahkan dari rumah warga ke tempat pembuangan akhir tanpa benar-benar berkurang.
Hujan Hanya Membuka Persoalan yang Selama Ini Tersembunyi
Saat musim kemarau, tumpukan sampah mungkin tidak terlalu terlihat.
Namun ketika hujan datang, semua persoalan itu muncul bersamaan.
Drainase yang semestinya berfungsi mengalirkan air berubah menjadi tempat penampungan sampah. Air hujan tidak lagi mengalir lancar karena tertahan plastik, kemasan makanan, dan limbah rumah tangga lainnya.
Akibatnya, genangan air muncul di berbagai titik.
DPRD Kota Ternate bahkan pernah mengingatkan bahwa drainase tidak boleh dijadikan tempat pembuangan sampah karena menjadi salah satu penyebab terjadinya genangan dan banjir saat hujan deras mengguyur kota.
Fenomena ini menunjukkan bahwa persoalan sampah bukan hanya berkaitan dengan kebersihan lingkungan.
Sampah telah berubah menjadi persoalan infrastruktur perkotaan.
Ketika drainase tidak berfungsi optimal, risiko banjir meningkat. Jalan menjadi kotor, aktivitas warga terganggu, dan biaya pemeliharaan infrastruktur pun semakin besar.
TPA Takome Menanggung Beban yang Terus Membesar
Di ujung perjalanan sampah Kota Ternate berdiri TPA Takome.
Setiap hari ratusan armada pengangkut membawa sampah dari berbagai kelurahan menuju lokasi tersebut.
Namun kapasitas dan kondisi TPA juga menghadapi tekanan yang semakin besar.
DLH Kota Ternate mengakui bahwa kondisi TPA sudah cukup tua dan sejumlah fasilitas pendukung mengalami kerusakan. Pemerintah bahkan didorong untuk melakukan pembenahan pengelolaan sampah secara lebih komprehensif, tidak hanya fokus pada pengangkutan dan pembuangan.
Masalah lain adalah keterbatasan armada.
Beberapa tahun lalu DPRD Kota Ternate menyebut jumlah armada pengangkut yang tersedia tidak sebanding dengan produksi sampah harian yang mencapai sekitar 100 ton.
Jika produksi sampah terus meningkat sementara kemampuan pengangkutan dan kapasitas TPA tidak berkembang secara signifikan, maka ancaman penumpukan sampah hanya tinggal menunggu waktu.
Budaya Buang, Bukan Mengurangi
Akar persoalan sebenarnya tidak hanya berada pada pemerintah.
Masalah terbesar justru berada pada sumber sampah itu sendiri, yaitu rumah tangga.
Sebagian besar warga masih melihat pengelolaan sampah sebagai urusan mengeluarkan sampah dari rumah. Setelah sampah diangkut petugas, persoalan dianggap selesai.
Padahal kenyataannya tidak demikian.
Sampah yang keluar dari rumah tetap harus ditangani di TPS, diangkut armada, lalu ditampung di TPA.
Ketika jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat terus meningkat, kemampuan pemerintah akan selalu tertinggal.
Kondisi ini terlihat jelas saat Ramadan. DLH Kota Ternate mencatat volume sampah meningkat melebihi 100 ton per hari akibat naiknya aktivitas konsumsi masyarakat.
Artinya, persoalan sampah bukan hanya soal pengangkutan, tetapi juga pola konsumsi dan perilaku masyarakat.
Kota Pulau yang Terancam Sampahnya Sendiri
Ternate memiliki keunikan sebagai kota pulau.
Hampir seluruh aktivitas masyarakat berdekatan dengan wilayah pesisir dan laut.
Ketika sampah tidak tertangani dengan baik, dampaknya tidak berhenti di daratan.
Sampah yang terbawa hujan akan bermuara ke laut, mencemari kawasan pesisir, mengganggu ekosistem, dan pada akhirnya kembali kepada manusia melalui rantai lingkungan.
Ironisnya, kota yang dikenal dengan keindahan laut dan gunung ini justru menghadapi ancaman serius dari sampah yang dihasilkannya sendiri.
Mencari Jalan Keluar
Krisis sampah di Ternate tidak bisa diselesaikan hanya dengan menambah armada atau memperluas TPA.
Persoalan ini membutuhkan perubahan dari hulu.
Pengurangan sampah dari rumah tangga, pemilahan sejak sumber, penguatan bank sampah, peningkatan fasilitas TPS, serta edukasi berkelanjutan menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Jika tidak, setiap musim hujan akan selalu menghadirkan cerita yang sama.
Sampah akan kembali muncul dari drainase, menggenangi jalan, memenuhi pesisir, dan mengingatkan bahwa Ternate belum benar-benar menyelesaikan persoalan yang selama ini dianggap biasa.
Padahal di balik tumpukan plastik yang terbawa hujan itu, tersimpan satu pertanyaan besar: sampai kapan kota ini mampu menanggung sampah yang terus diproduksinya sendiri?




