NarasiTimur
Beranda Publik Ratusan Penumpang Lion Air di Ternate Protes Keras, Penerbangan Tertunda Seharian

Ratusan Penumpang Lion Air di Ternate Protes Keras, Penerbangan Tertunda Seharian

Penumpang Lion Air memadati kantor layanan maskapai di Bandara Sultan Babullah Ternate. (Narasitimur)

Narasitimur – Ratusan penumpang Lion Air di Bandara Sultan Babullah Ternate gagal berangkat akibat cuaca buruk yang mengganggu operasional penerbangan, Senin (22/6/2026). Kondisi ini memicu protes dan perdebatan antara sejumlah penumpang dengan pihak maskapai karena mereka harus menunggu berjam-jam tanpa kepastian keberangkatan.

Pantauan di bandara, sejumlah penumpang terlihat kesal dan mempertanyakan alasan penundaan penerbangan yang berlangsung sejak pagi hingga malam hari.

Salah satu penumpang, Retno, mengaku kecewa karena penerbangannya yang dijadwalkan berangkat pagi hari belum juga terlaksana hingga malam.

“Saya berangkat harusnya pagi, tapi sampai sekarang tunggu sampai malam belum berangkat. Kesal karena kami menunggu lama,” ujarnya.

Sedikitnya tiga penerbangan Lion Air terdampak, yakni JT 897 rute Ternate–Makassar yang dijadwalkan berangkat pukul 11.15 WIT, JT 869 rute Ternate–Surabaya pukul 11.45 WIT, serta satu penerbangan kedatangan JT 980 dari Manado. Total penumpang yang terdampak diperkirakan mencapai lebih dari 300 orang.

Perwakilan Lion Air Ternate, Zul, menjelaskan penundaan terjadi karena faktor cuaca, khususnya kecepatan angin yang melebihi batas aman untuk pendaratan pesawat di Bandara Sultan Babullah.

Menurutnya, pesawat yang hendak mendarat di Ternate harus menggunakan Runway 32 karena Runway 14 saat ini tidak direkomendasikan untuk pendaratan. Namun, sesuai aturan operasional maskapai, pendaratan di Runway 32 hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu, termasuk kecepatan angin yang tidak melebihi 10 knot.

“Kecepatan angin saat itu mencapai 12 hingga 24 knot. Pilot sudah beberapa kali mencoba melakukan pendaratan, tetapi gagal dan harus melakukan go around karena alasan keselamatan,” kata Zul

Ia menjelaskan, pesawat yang datang dari Makassar dan Surabaya akhirnya dialihkan (divert) ke Bandara Sam Ratulangi Manado sambil menunggu kondisi cuaca di Ternate membaik.

Meski penumpang sempat mempertanyakan mengapa beberapa maskapai lain dapat mendarat, Burhan menegaskan keputusan pilot Lion Air murni didasarkan pada aspek keselamatan penerbangan.

“Penerbangan tidak bisa dipaksakan. Keselamatan penumpang dan kru menjadi prioritas utama,” tegasnya.

Sebagai bentuk pelayanan, pihak maskapai mengaku telah membagikan makanan kepada penumpang yang terdampak. Namun, terkait kompensasi lainnya, Burhan menyebut kondisi cuaca masuk kategori force majeure sehingga maskapai tidak memiliki kewajiban memberikan ganti rugi sebagaimana penundaan yang disebabkan faktor operasional maskapai.

Penjelasan Lion Air tersebut juga diperkuat dengan peringatan cuaca yang dikeluarkan BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate. Dalam dokumen Windshear Warning Nomor 1 yang diterbitkan pada 22 Juni 2026, BMKG memperingatkan potensi wind shear atau perubahan arah dan kecepatan angin secara tiba-tiba di Runway 32 dan Runway 14 Bandara Sultan Babullah.

Peringatan yang berlaku mulai pukul 20.30 hingga 22.00 WIT itu menyebutkan angin permukaan bertiup dari arah 160 hingga 220 derajat dengan kecepatan 8 knot dan hembusan maksimum mencapai 20 knot. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mengganggu keselamatan proses lepas landas maupun pendaratan pesawat.

Hingga malam hari, sejumlah penumpang masih menunggu kepastian jadwal keberangkatan sambil berharap kondisi cuaca di Ternate kembali membaik. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan