NarasiTimur
Beranda Opini UMMU Butuh Pemimpin Berintegritas, Loyal, dan Bebas Masalah

UMMU Butuh Pemimpin Berintegritas, Loyal, dan Bebas Masalah

Alfajri A. Rahman (Istimewa)

Catatan Rektor Menjelang Pemilihan Dekan

Alfajri A. Rahman (Alumni UMMU)

UNIVERSITAS Muhammadiyah Maluku Utara (UMMU) memiliki tantangan besar untuk meningkatkan kualitas kelembagaan, termasuk mewujudkan akreditasi institusi yang unggul. Target tersebut tentu tidak dapat dicapai hanya melalui kerja administratif semata. UMMU harus menyiapkan seluruh elemen pendukung, mulai dari penguatan program studi, fakultas, kualitas sumber daya manusia, hingga tata kelola kepemimpinan.

Dalam konteks itulah, penentuan figur pimpinan fakultas, khususnya dekan, menjadi bagian penting yang tidak boleh dipandang sebagai sekadar proses pergantian jabatan. Pemilihan dekan harus menjadi momentum untuk memastikan bahwa fakultas dipimpin oleh figur yang memiliki kapasitas, integritas, loyalitas terhadap institusi, serta rekam jejak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Rektor UMMU sebagai penanggung jawab utama arah dan tata kelola universitas perlu memberikan perhatian serius terhadap proses tersebut. Penentuan dekan harus dilakukan secara hati-hati dengan mempertimbangkan rekam jejak, kapasitas kepemimpinan, integritas moral, serta komitmen terhadap nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan.

Hal ini menjadi relevan dalam proses pemilihan Dekan Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Maluku Utara (FH-UMMU). Pemilihan dekan bukan sekadar agenda internal fakultas, melainkan proses strategis yang menentukan arah tata kelola akademik, penegakan etika, dan reputasi institusi.

Sebagai fakultas yang mencetak calon penegak hukum, akademisi, dan profesional di bidang hukum, FH-UMMU memikul tanggung jawab moral yang besar. Karena itu, proses pemilihan pemimpinnya harus mencerminkan prinsip transparansi, akuntabilitas, profesionalisme, serta bebas dari kepentingan pribadi maupun konflik kepentingan.

Rekam Jejak Harus Menjadi Pertimbangan

Munculnya dinamika dan isu terkait rekam jejak sejumlah calon dekan harus disikapi secara kritis dan rasional oleh seluruh sivitas akademika, mulai dari dosen, mahasiswa, hingga alumni.

Namun demikian, setiap dugaan atau isu yang muncul tidak boleh langsung dijadikan dasar untuk menghakimi seseorang. Prinsip praduga tak bersalah (presumption of innocence) harus tetap dijunjung tinggi. Tidak boleh ada seseorang yang dinilai bersalah hanya berdasarkan asumsi, rumor, atau informasi yang belum diverifikasi.

Di sisi lain, prinsip tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan pentingnya pemeriksaan rekam jejak calon pemimpin. Panitia Pemilihan Dekan dan Senat Fakultas memiliki tanggung jawab moral dan kelembagaan untuk melakukan background check secara objektif dan profesional.

Apabila terdapat isu atau dugaan yang berkembang mengenai seorang kandidat, maka perlu dilakukan klarifikasi secara resmi dan proporsional. Proses tersebut penting agar dinamika yang berkembang tidak berubah menjadi polemik berkepanjangan yang pada akhirnya merugikan nama baik calon maupun institusi.

Yang dibutuhkan bukan penghakiman, melainkan transparansi dan kejelasan.

Fakultas Hukum Harus Menjadi Moral Center

Sebagai bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah, UMMU tidak hanya menilai seorang pemimpin berdasarkan kemampuan akademik dan administratif. Aspek Kemuhammadiyahan, integritas moral, serta komitmen terhadap nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan juga harus menjadi pertimbangan utama.

Fakultas Hukum memiliki posisi strategis sebagai salah satu moral center dalam lingkungan perguruan tinggi. Fakultas ini mengajarkan hukum, keadilan, etika, serta prinsip-prinsip penegakan aturan. Oleh karena itu, standar kepemimpinan di Fakultas Hukum seharusnya tidak cukup hanya memenuhi persyaratan administratif formal.

Seorang dekan idealnya memiliki standar ethical leadership atau kepemimpinan beretika yang kuat. Figur tersebut harus mampu menjadi teladan bagi dosen, mahasiswa, dan seluruh sivitas akademika.

Pemimpin fakultas juga seharusnya memiliki rekam jejak yang baik dan terbebas dari persoalan yang berpotensi mengganggu tata kelola akademik, menimbulkan konflik kepentingan, atau mencoreng reputasi institusi.

Hal ini penting karena kepemimpinan yang berintegritas memiliki dampak langsung terhadap legitimasi fakultas di mata publik.

Integritas Pemimpin dan Masa Depan UMMU

Kepercayaan masyarakat terhadap perguruan tinggi tidak hanya dibangun melalui gedung megah atau jumlah mahasiswa yang banyak. Kepercayaan itu juga dibangun melalui kualitas kepemimpinan.

Figur pimpinan yang memiliki rekam jejak baik akan memberikan pengaruh positif terhadap reputasi institusi. Sebaliknya, kepemimpinan yang terus dibayangi persoalan berpotensi mengganggu kepercayaan masyarakat, mahasiswa, alumni, maupun calon mahasiswa.

UMMU sedang menghadapi tantangan besar untuk meningkatkan kualitas akademik dan kelembagaan. Karena itu, setiap fakultas membutuhkan pemimpin yang benar-benar mampu bekerja, membangun kolaborasi, menjaga loyalitas terhadap institusi, serta memiliki komitmen kuat terhadap kemajuan universitas.

Rekam jejak pimpinan yang baik juga akan memperkuat kualitas tata kelola, proses pembelajaran, pengembangan sumber daya manusia, hingga daya saing lulusan di tingkat regional maupun nasional.

Pentingnya Ruang Uji Gagasan

Proses pemilihan dekan juga sebaiknya memberikan ruang bagi sivitas akademika untuk mengenal secara lebih mendalam kapasitas para kandidat.

Memang, tradisi perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki mekanisme tersendiri dan tidak selalu menggunakan format debat kandidat seperti dalam kontestasi politik. Namun, ruang untuk menguji gagasan tetap penting.

Forum penyampaian visi, misi, dan program kerja dapat menjadi sarana bagi dosen dan sivitas akademika untuk melihat secara langsung arah kepemimpinan yang ditawarkan para calon.

Melalui forum tersebut, kandidat dapat menjelaskan gagasannya mengenai pengembangan fakultas, peningkatan kualitas akademik, tata kelola kelembagaan, penguatan penelitian, serta komitmen terhadap penegakan etika.

Dengan demikian, proses pemilihan tidak hanya berorientasi pada siapa yang memiliki dukungan paling kuat, tetapi juga siapa yang memiliki gagasan, kapasitas, dan rekam jejak terbaik untuk memimpin.

Memilih Pemimpin untuk Masa Depan

Pemilihan dekan pada akhirnya bukan sekadar memilih seseorang untuk menduduki jabatan selama satu periode.

Lebih dari itu, pemilihan dekan adalah tentang menentukan arah masa depan fakultas.

UMMU membutuhkan pemimpin yang loyal terhadap institusi, mampu bekerja secara profesional, memiliki kapasitas akademik dan manajerial, serta yang terpenting memiliki integritas dan rekam jejak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Proses kontestasi yang jujur, adil, objektif, dan transparan akan memberikan legitimasi yang kuat kepada pemimpin terpilih.

Fakultas-fakultas di UMMU harus dipimpin oleh figur yang tidak hanya cakap secara manajerial, tetapi juga memiliki keteladanan moral dan keberanian menjaga marwah institusi.

Sebab, universitas yang ingin menjadi unggul tidak cukup hanya membangun fasilitas dan meningkatkan angka akreditasi. Universitas unggul juga harus dibangun oleh kepemimpinan yang unggul.

Dan kepemimpinan yang unggul selalu dimulai dari integritas.

Fastabiqul Khairat.

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan