Camat Morselbar Ajak Sekolah Cegah Perundungan dan Ciptakan Lingkungan Aman
Narasitimur – Camat Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, Syamsul B.Y. Noho, mengajak seluruh stakeholder pendidikan memperkuat pengawasan dan mencegah perundungan guna menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan nyaman bagi siswa.
Hal itu disampaikan Syamsul saat menghadiri Kampanye Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang digelar Kreasi Pulau Morotai di SD Negeri 25 Pulau Morotai, Senin (27/7/2026).
Syamsul mengatakan, sekolah tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya proses belajar mengajar, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter serta menanamkan nilai-nilai kemanusiaan kepada anak.
“Ketika kita berbicara tentang sekolah aman dan nyaman, kita sedang berbicara tentang hak dasar anak-anak kita untuk mendapatkan perlindungan dari tekanan mental maupun gangguan fisik. Kita tidak boleh membiarkan satu pun anak merasa takut untuk datang ke sekolah hanya karena ancaman perundungan atau lingkungan yang tidak mendukung,” ujarnya.
Menurutnya, Dinas Pendidikan, kepala sekolah, dan para guru harus memiliki kepekaan terhadap dinamika sosial siswa. Pengawasan terhadap anak juga tidak boleh hanya dilakukan selama proses pembelajaran di dalam kelas.
“Pengawasan tidak boleh hanya berhenti di dalam kelas, tetapi juga di lapangan olahraga hingga ke area gerbang sekolah saat jam pulang. Kita harus menciptakan sistem pelaporan yang ramah anak, di mana setiap siswa merasa berani dan percaya bahwa aduan mereka akan ditindaklanjuti dengan bijaksana tanpa rasa takut akan intimidasi,” tegasnya.
Syamsul juga menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengawasi dan membentuk karakter anak di luar jam sekolah. Menurut dia, pendidikan karakter yang dimulai dari lingkungan keluarga menjadi benteng utama bagi anak dalam berinteraksi dengan lingkungan sosial.
“Mari kita tanamkan nilai-nilai empati dan toleransi sejak dini, sehingga saat mereka berinteraksi dengan teman-teman, mereka menjadi pribadi yang saling merangkul, bukan saling memukul; saling mendukung, bukan saling menjatuhkan,” katanya.
Ia berharap Kampanye Budaya Sekolah Aman dan Nyaman tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal gerakan berkelanjutan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi anak.
“Saya berharap, melalui momentum ini, tercipta standar baru dalam interaksi sosial di lingkungan pendidikan kita. Sekolah harus menjadi tempat paling dirindukan oleh siswa, tempat di mana mereka bisa tertawa lepas, bertanya tanpa ragu, dan berprestasi tanpa beban,” tandasnya. (*)





