Ketergantungan Pangan Tinggi, Ternate Gandeng Probolinggo Amankan Pasokan
Narasitimur — Ketergantungan Kota Ternate terhadap pasokan pangan dari luar daerah menjadi perhatian Pemerintah Kota Ternate dalam upaya menjaga stabilitas harga dan mengendalikan inflasi.
Sekitar 80 persen kebutuhan pangan Ternate selama ini didatangkan dari luar Maluku Utara. Kondisi tersebut membuat ketersediaan dan harga sejumlah komoditas pangan di Ternate sangat dipengaruhi kelancaran distribusi dari daerah produsen.
Sekretaris Daerah Kota Ternate, Rizal Marsaoly, mengatakan kondisi geografis Ternate sebagai daerah kepulauan dengan luas daratan terbatas membuat daerah tersebut tidak memiliki produksi pangan yang mencukupi kebutuhan masyarakat.
“Sekitar 80 persen pasokan kebutuhan pangan kami mendatangkan dari luar Maluku Utara, terutama dari Jawa Timur,” kata Rizal dalam High Level Meeting TPID dan penandatanganan Kerja Sama Antar Daerah (KAD) dengan Pemerintah Kota Probolinggo, Jawa Timur, Rabu (2/9/2026).
Menurutnya, persoalan pasokan menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi untuk menjaga inflasi daerah. Selain kebutuhan masyarakat, permintaan pangan dari sektor industri dan perusahaan tambang di Maluku Utara juga turut memengaruhi ketersediaan komoditas di pasar.
Karena itu, Pemkot Ternate mulai mendorong pola kerja sama langsung dengan daerah penghasil pangan, salah satunya Kota Probolinggo.
Kerja sama tersebut tidak hanya melibatkan pemerintah daerah, tetapi diarahkan pada hubungan bisnis langsung antara pelaku usaha pangan di Ternate dengan produsen di Probolinggo.
Dalam kunjungan tersebut, Pemkot Ternate membawa lima pengusaha atau pedagang besar komoditas bawang, rica dan tomat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Pengusaha Pemasok Pangan Kota Ternate.
Mereka mengikuti kunjungan lapangan dan sharing session bersama Asosiasi Bawang Merah Indonesia (ABMI) Kota Probolinggo.
Bawang merah menjadi salah satu komoditas yang menjadi perhatian karena kerap mengalami gangguan pasokan dan berkontribusi terhadap pergerakan harga pangan di Ternate.
Rizal berharap pertemuan tersebut dapat menghasilkan kesepakatan Business-to-Business (B2B) sehingga pasokan dari daerah produsen dapat tersalurkan secara lebih langsung ke Ternate.
“Kami mengajak langsung para pelaku usaha pedagang dari Ternate agar usai kunjungan ini terjadi kesepakatan Business-to-Business secara komersial dengan Asosiasi Bawang Merah di Kota Probolinggo,” ujarnya.
Pemkot Ternate melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan akan memfasilitasi dan mengawasi proses kerja sama tersebut untuk memastikan distribusi berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi produsen, pedagang dan konsumen.
Kerja sama Ternate dan Probolinggo ini diharapkan menjadi salah satu upaya memperkuat rantai pasok pangan sekaligus mengurangi risiko gejolak harga akibat ketergantungan pasokan dari luar daerah. (*)






