NarasiTimur
Beranda Publik Jelang HJT ke-981, Kesultanan Tidore Gelar Sejumlah Ritual Adat

Jelang HJT ke-981, Kesultanan Tidore Gelar Sejumlah Ritual Adat

Para Bobato Kesultanan Tidore menggelar prosesi Kota Tupa jelang HJT ke-981 (Tim)

Narasitimur – Kesultanan Tidore menggelar sejumlah ritual jelang peringatan Hari Jadi Tidore (HJT) ke-981 tahun. Ritual dilakukan melibatkan Pemerintah Daerah Kota Tidore melalui Dinas Pariwisata, Sabtu (4/4/2026).

Sebagai awal dari rangkaian kegiatan, para Bobato melakukan upacara Kota Tupa dengan ritual Akedango dan Lufu Kie. Ritual sakral ini merupakan niat dari Sultan (Kolano) untuk meminta keberkahan kepada Allah SWT, melalui leluhur yang diyakini sebagai para auliyah.

Tupa merupakan simbol dari niat Sultan sebagai pemimpin tertinggi negeri untuk memohon didoakan oleh para Sowohi di Soa Romtoha Toma You (Lima keluarga besar di Gurabunga-Gamtufkange). Doa bertujuan meminta diturunkannya rahmat dan keberkahan ke seluruh negeri dan bala (Rakyat) untuk mendapat kesejahteraan dan dijauhkan dari segala musibah, serta bencana.

Tata Cara Pelaksanaan Ritual Adat

Sultan dan Pemerintah Daerah Kota Tidore Kepulauan menyiapkan Tupa yang berisi persyaratan (Dimai) yang terdiri dari pinang, sirih, dan tembakau yang diletakan di dalam Tupa (Tempat pinang sirih). Setelah itu, Tupa diberangkatan dari Kedato Kie (Keraton) oleh para Bobato, dan dipegang oleh empat orang Bobato penjaga Limau, yakni Gimalaha Kalaodi selaku juru bicara dan didampingi Gimalaha Togubu, Famanyira Failuku dan Famanyira Tomacala.

Setelah itu Tupa diantar ke Kedato Gimalaha Tomayou di Nyili Gamufkange sebagai perantara untuk nanti diteruskan kepada Farlom Gam dan SoaromtohaTomayou.

Dari situ, prosesi dilanjutkan lagi dengan ritual Soaromtoha yang menghasilkan Akedango. Sekilas, Akedango adalah air yang telah dibacakan doa khusus yang diyakini memiliki kekuatan spiritual yang bisa membawa keberkahan bagi seluruh negeri dan bala. Air tersebut kemudian dibawa ke Kedato untuk dibagikan ke seluruh negeri dan bala.

Prosesi Tupa selesai dilakukan, Sultan Tidore dan seluruh perangkatnya melanjutkan prosesi upacara Lufu Kie (Keliling pulau) sambil memanjatkan doa-doa khusus serta berziarah ke beberapa makam para Sultan dan para ulama Kesultanan Tidore yang diyakini memiliki karomah.

Joujau (Perdana menteri) Kesultanan Tidore, Ishak Naser kepada media ini, membenarkan prosesi adat dalam rangka menyambut HJT yang jatuh pada 12 April 2026 nanti. Ia bilang, selain ritual Kota Tupa, akan digelar juga ritual Lufu Kie yang melibatkan 12 Juanga (Kendaraan perang) dan Kagunga (Kendaraan Khusus Sultan) sebagai armada inti (Wajib).

“Selain armada inti, nanti dapat juga ada armada lain yang diikutsertakan berpartisipasi dalam Lufu Kie yang nanti dibuat jadi satu armada. Seperti armada kora-kora yang dipakai tempur di masa lalu. Prosesi Akedango itu di 8 April, Kie Lufu di 9 April dan Ratib Haddad 10 April mendatang,” pungkasnya. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan