NarasiTimur
Beranda Opini Menjaga Adab dan Adat di Tengah Euforia World Cup 2026

Menjaga Adab dan Adat di Tengah Euforia World Cup 2026

Hidayatullah Sehan Imam Besar Masjid Sultan Ternate

Oleh: Hidayatussalam Sehan
Imam Besar Masjid Sultan Ternate

Imam Besar Masjid Sultan Ternate yang juga fans Timnas Maroko menghimbau agar euforia Piala Dunia tidak sampai merugikan diri.

Piala Dunia merupakan ajang olahraga sepak bola dunia yang dinanti semua kalangan dan lapisan masyarakat. Event empat tahunan ini menyatukan dan menggembirakan masyarakat. Bola menghilangkan sekat lapisan sosial bahkan menembus batas negara. Berbagai bendera negara berkibar bak kawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Euforia membawa kebahagiaan tersendiri bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya Kota Ternate dan Tidore yang sangat menonjol. Wali Kota Ternate dengan Timnas Jermannya, Wakil Wali Kota dengan Brazil, Sekda dengan Spanyol. Sementara Wali Kota Tidore Kepulauan pimpinan fans Argentina garis keras.

Di Kesultanan Ternate juga tidak kalah sengit. Jo Qalem dan Kapita Arab selaku ketua pendukung Timnas Maroko berhadapan dengan Johukum Soa Sio selaku fans fanatik Belanda yang akhirnya kalah. Di samping itu, Jogugu selaku pendukung Argentina dan para Kapita pendukung Jerman dan Inggris.

Di Tidore dan Halmahera tidak tanggung-tanggung, tim yang kalah dihukum “batobo”, bahkan ada yang lehernya diikat dengan tali. Semua melakukannya dengan gembira dan penuh keseruan. Di sisi lain, roda perputaran ekonomi juga bergerak dengan penjualan jersey, bendera, atau cemilan di sekitar lokasi nobar.

Namun dalam ruang euforia yang gegap gempita ini, perlu setiap orang tua mengingatkan anak-anaknya agar tidak berlebihan dalam fanatisme, apalagi sampai merugikan diri sendiri. Kejadian kecelakaan lalu lintas, pemandangan beberapa anak perempuan usia sekolah tertidur di teras masjid dengan kaos bola setelah nobar di taman film, sampai dengan pawai brutal ratusan motor sambil teriak yang mengganggu kekhusyukan Salat Subuh tidak harus terjadi.

Taruhan judi bola jangan sampai terjadi karena melanggar hukum agama maupun negara. Bagaimanapun euforianya, kita harus tetap saling mengingatkan dan mengarahkan ke jalan yang benar yang sesuai dengan nilai agama juga kamtibmas.

Ada kewarasan yang tetap harus dijaga. Hajatan Piala Dunia 2026 masih panjang. Jangan sampai semangat Piala Dunia yang seharusnya menjadi motivasi sportivitas serta hiburan bagi kita semua malah menjadi perilaku jahiliyah modern.

Semangat selalu mendukung tim andalan dalam batas kewajaran. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan