Aksi Aliansi Mei Bergerak di Ternate Ricuh, Dua Pingsan dan Polisi Terluka
Narasitimur — Aksi demonstrasi mahasiswa dan pedagang Pasar Higienis di depan Kantor Wali Kota Ternate berujung ricuh, Senin (4/5/2026), setelah massa melempari lokasi dengan buah dan sayuran, memicu bentrokan dengan aparat serta menyebabkan korban luka dan pingsan.
Massa yang tergabung dalam Aliansi Mei Bergerak bersama pedagang yang didominasi ibu-ibu, mulai memanas sekitar pukul 16.10 WIT. Mereka melempari area kantor wali kota menggunakan buah-buahan dan sayuran sebagai bentuk protes atas sejumlah tuntutan yang disuarakan.
Pantauan narasitimur.id di lapangan, ketegangan meningkat dan terjadi aksi saling dorong antara massa dan aparat kepolisian. Dalam situasi yang tidak kondusif, polisi melakukan pemukul mundur massa untuk mengendalikan keadaan.
Akibat insiden tersebut, tiga mahasiswa sempat diamankan, namun langsung dibebaskan setelah situasi mereda. Sementara itu, dua pedagang perempuan terlihat pingsan di lokasi dan segera mendapat pertolongan di tempat.
Dari pihak kepolisian, KBO Samapta Polres Ternate, Ipda S. Muni, mengalami luka di bagian bibir bawah serta luka sobek di sela jari tangan kiri dan kanan. Ia menyebut luka tersebut terjadi saat dorong-dorongan dengan massa dan langsung mendapat penanganan medis.
“Terkena tiang bendera dari bambu saat situasi ricuh,” ujarnya saat dimintai keterangan di lokasi.
Dalam aksi tersebut, Kapolres Ternate turut memantau jalannya demonstrasi bersama jajaran aparat. Hingga pukul 18.00 WIT, polisi membubarkan massa secara paksa karena aksi telah melewati batas waktu yang ditentukan sesuai aturan.
Koordinator lapangan aksi, Asril dari PMII, menyatakan bahwa aksi ini merupakan bagian dari gerakan “Aliansi Mei Bergerak” dengan seruan “Bangkit Bersama Rakyat, Lawan Perang Imperialis, Rebut Upah, Tanah, dan Kerja Layak.” Ia menilai berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat berakar pada ketimpangan sosial dan ekonomi.
Menurutnya, tuntutan massa mencakup isu luas, mulai dari pendidikan gratis dan peningkatan upah, hingga reforma agraria dan perlindungan hak pekerja. Selain itu, massa juga menyoroti persoalan lokal di Ternate, seperti penataan pasar dan nasib pedagang kecil.
Aliansi tersebut mengajukan sedikitnya 19 tuntutan, di antaranya pendidikan gratis dan layak, kenaikan upah minimum, jaminan hak berserikat, penambahan layanan publik di wilayah terluar, penuntasan kasus kekerasan, hingga penyediaan tempat yang layak bagi pedagang di Pasar Higienis.
Aksi berakhir setelah pembubaran oleh aparat, dengan situasi yang berangsur kondusif pada malam hari. (*)





