NarasiTimur
Beranda Publik Harga Cabai di Tidore Melonjak, Pemkot Siapkan Pasokan dari Luar Daerah

Harga Cabai di Tidore Melonjak, Pemkot Siapkan Pasokan dari Luar Daerah

Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah bersama Kementerian Dalam Negeri RI yang digelar secara daring (Istimewa)

Narasitimur – Harga cabai di Kota Tidore Kepulauan, Maluku Utara, mengalami lonjakan signifikan. Harga cabai rawit kini mencapai Rp150 ribu per kilogram, sedangkan cabai keriting berada di kisaran Rp120 ribu per kilogram.

Kenaikan harga tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kota Tidore Kepulauan karena pasokan cabai lokal saat ini tidak mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Asisten Sekda Bidang Perekonomian dan Pembangunan Kota Tidore Kepulauan, Taher Husain, mengatakan kondisi tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah bersama Kementerian Dalam Negeri RI yang digelar secara daring, Senin (21/9/2026).

Menurut Taher, kenaikan harga cabai terjadi di sejumlah wilayah Maluku Utara. Bahkan, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) dan Halmahera Utara (Halut) tercatat sebagai daerah dengan kenaikan harga paling tinggi.

“Di atas rata-rata ada empat kabupaten/kota. Yang paling tinggi adalah Haltim dan Halut. Kaitannya dengan langkah-langkah yang diantisipasi memang kita tidak bisa hindari karena ini musim kemarau yang panjang. Untuk petani cabai tentu sedikit terkendala karena terbatasnya suplai air,” jelasnya.

Ia menyebutkan, produksi cabai lokal saat ini sangat terbatas. Kondisi tersebut bahkan membuat produksi dalam daerah belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

“Produksi lokal sangat terbatas, bahkan untuk konsumsi lokal saja sudah tidak mencukupi,” ujarnya.

Selain cabai, sejumlah komoditas pangan seperti ikan dan ayam masih relatif terkendali. Namun, pemerintah daerah tetap mewaspadai potensi kenaikan harga akibat tekanan pasokan.

Persoalan pasokan juga terjadi di daerah yang selama ini menjadi pemasok cabai ke Kota Tidore, seperti Halmahera Timur dan Halmahera Utara. Kondisi serupa turut terjadi di sejumlah daerah pemasok dari luar Maluku Utara.

Taher mengatakan, Gorontalo dan Sulawesi Utara yang selama ini menjadi salah satu sumber pasokan juga mengalami tekanan harga. Kondisi tersebut membuat pemerintah daerah perlu mencari alternatif sumber pasokan baru.

“Sepuluh besar itu nominasinya dua provinsi itu, Gorontalo dan Sulawesi Utara. Sudah masuk dua digit, sudah di atas sepuluh. Itu memang secara nasional baru terjadi sekitar tiga bulan terakhir,” ungkapnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Tidore Kepulauan mulai menyiapkan skema intervensi pasar dengan mendatangkan pasokan cabai dari luar daerah. Sejumlah opsi yang tengah dibahas yakni mendatangkan cabai dari Makassar maupun Pulau Jawa.

“Langkah yang kita diskusikan akan kita lakukan intervensi menyangkut suplai dari luar. Apakah dari Makassar atau dari Jawa, karena itu tentu juga membutuhkan konsekuensi pendanaan,” katanya.

Selain mendatangkan pasokan, pemerintah daerah juga menyiapkan langkah stabilisasi harga melalui pelaksanaan pasar murah dan penyaluran cadangan pangan.

Taher mengatakan, pelaksanaan program tersebut akan dikoordinasikan dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kota Tidore Kepulauan. Koordinasi diperlukan karena kebijakan anggaran untuk kegiatan tersebut pada 2026 berada di perangkat daerah tersebut.

“Untuk pasar murah dan penyaluran cadangan pangan akan dikoordinasikan dengan Dinas Perindagkop dan UKM,” pungkasnya.

Langkah intervensi tersebut menjadi penting di tengah keterbatasan fiskal daerah dan meningkatnya tekanan harga pangan akibat musim kemarau panjang serta terganggunya pasokan dari sejumlah daerah sentra produksi. (*)

Komentar
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Iklan